Idul Fitri Keempatku di Sini!

‘Idul fitri mempunyai ‘bau’ yang khas. Khas yang saya maksud adalah keunikan yang ada di setiap bumi dimana takbir berkumandang. Jika hari-hari ‘idul fitri di kampung-kampung Indonesia diisi dengan silaturahmi ramai-ramai ke semua penduduk satu kampung, suasana riang memenuhi jalan-jalan, dan senyum kemenangan terpancar di hampir sudut-sudut gang, hal itu jelas tidak mudah anda temukan di Kairo. Tempat yang dari sini saya tatap mentari satu syawwal untuk keempat kalinya!.

Read More »

Ad-duwaiqah; Suatu Hari..

Hari yang lebih padat dari kemarin. Pagi tadi, aku terlambat bangun (sedikit). Pun setelah sholat subuh aku teruskan kembali mimpi yang sempat putus…he3x. Aku ingat hari ini Ahad. Itu berarti adalah hari talaqqi al-Qur`an ke Ad-duwaiqah, ke rumah Syekh Abdul ‘Adzim. Tapi rasa kantuk yang menggoda akhirnya aku memilih untuk tidur menunggu dibangunin teman yang sama-sama talaqqi. Karena selama ini, kita saling mengingatkan dan saling membangunkan untuk berangkat bareng.

Alhamdulillah, akhirnya aku dibangunkan juga. Meskipun teman tadi juga terlambat. Bahkan sempat berpikir kalau dia sudah kami tinggal. Seharusnya jam setengah delapan kami sudah meninggalkan asrama. Tapi kali ini, jam delapan seperempat baru bisa berangkat. Jalanan sudah ramai dengan kendaraan, sehingga agak susah bagi kami untuk menyeberang di dekat kubri (jalan layang) belakang asrama.

Seperti yang sudah kami kira, beberapa teman sudah datang duluan. Ketika kami datang, salah satu dari mereka sedang membaca di depan syaikh. Setelah mengucapkan salam, kami dipersilakan masuk dan langsung duduk di antara murid yang lainnya. Kesemua teman yang sudah datang berasal dari Malaysia. Memang, jika dibandingkan dengan murid yang dari Indonesia, orang Malaysia lebih banyak yang ikut talaqqi al-Qur`an di sini. Bahkan jika sempat menengok halaqah talaqqi-talaqqi yang lain yang berada di masjid-masjid -tak terkecuali masjid al-Azhar- kita akan melihat bahwa mayoritas dari pelajar asing yang ikut dari Malaysia, meskipun sebagian kecil di sana ada yang dari Indonesia. Sebuah fenomena yang membuat saya kadang merasa sedih :D.Read More »

Kabhi Alvida Na Kehna

Hari ini dingin. Langit mendung sejak pagi. Saya sendiri terus terang malas keluar, seandainya saja tidak dipaksa seorang kawan yang ingin diantar beli buku ke belakang Azhar. Ternyata, buku yang kami cari habis. Malah saya yang jadi beli buku Ushul Fiqh-nya Syaikh Abu Nur Zuhair, pesanan seorang kawan. Buku yang menerangkan dengan jelas dan lugas “Nihayat Saul”-nya Syaikh Baidhawi, muqorror kami di kuliah. Layak jika dikatakan bahwa buku “Nihayat Saul” yang disajikan ulang sesuai dengan zaman.

Dr Muhammad Salim Abu ‘Ashi sebagai muhaqqiqnya, dalam muqaddimah menyinggung tentang rekonstruksi ilmu Ushul Fiqh yang akhir-akhir ini banyak diusung oleh berbagai kalangan. Masalah tajdid ushul Fiqh, sebenarnya bukan masalah baru.Read More »

​Komsol Body Building

Entah benar atau tidak cerita yang pernah kudengar, yang jelas, julukan itu melekat pada salah komplek gedung yang ada di Kampung Damai. Sebutan bagi komplek gedung yang letaknya agak terpencil di ujung selatan. Tak jarang butuh waktu bagi santri yang kebetulan kelasnya di sana untuk sampai di kelas sebelum bel berbunyi. Apalagi jika ia tinggal di DH, Rita ataupun Arinda. Ba’id jiddan….

Komsol, singkatan dari Komplek Solihin. Solihin sendiri adalah nama orang yang konon mewakafkan tanah tempat berdirinya si gedung dengan gagah. Tak berlebihan jika kemudian ia diabadikan menjadi nama komplek tersebut.
Sedangkan ‘Body Building’ di akhir namanya bukanlah tanpa arti. Tapi ia ibarat ‘gelar’ -meski nggak sengaja dibuat- bagi salah satu gedung dari komplek tersebut yang letaknya paling pojok dan beberapa meter saja dari pinggiran sungai Malo. Read More »

kairo egypt

Malam Menjelang Mentari Menggigil

Malam ini, seperti malam biasanya. Tidak banyak perbedaan yang terjadi pada menit-menit yang merajut waktu. Tepat setelah maghrib seorang kawan main ke kamar untuk sekedar nyambangi. Memang, hidup di asrama kadang menimbulkan rasa senasib dan sepenanggungan. Meskipun hanya beberapa gedung jarak kamar kami, atau pun sering ketemu di dapur, di jalan, di mahattah bus dan di tempat lain, namun acara silaturahmi masih manjur untuk mengobati rasa suntuk. Bukan hal-hal penting yang kami obrolkan, namun hanya basa-basi yang kadang perlu.

Lepas isya’ rupanya ada yang sama-sama kami rasakan. Ya, makan siang yang tadi mengganjal perut minta ditajdid dengan ‘asya’. Belum lagi musim dingin yang menuntut kami untuk kurang disiplin makan. Menjadi tidak teratur dan kadang lebih sering. Karena ajakan teman tadi, akupun gantian mengunjungi kamarnya. Kebetulan ada kawan tetangga kamar sebelah yang ingin keluar kamar pula, dan akhirnya jadilah kita bertiga ke kamarnya.Read More »

daging lezat

Keluarlah, Maka Kau Dapat Daging

‘Ied mubarak sa’id ‘alaikum…
“’Ied mubarok sa’id…. “ demikian sapaan sms dari seorang kawan Maroko. Mengingatkan kalau besok ‘Idul Adha. ‘Ied tahun ini masih di negeri orang. Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Meskipun negeri orang kali ini juga negeri orang yang sama seperti ketika empat tahun lalu saya ber-‘Idul Adha (mbulet ya?)

Idul Adha kali ini tidak ramai. Sama saja dengan dengan tahun lalu. Tidak ramai karena saya tidak banyak keluar dari asrama. Lebih tepatnya tidak banyak keluar kamar. Setelah semalaman suntuk bikin opor daging (daging dari JS ) bersama kawan-kawan, paginya disambung salat ‘Ied tanpa istirahat. Rencananya setelah sholat ‘Ied kita akan memakan si opor. Tapi ternyata, kawan-kawan tergesa-gesa untuk segera pergi ke Masjid as-Salam yang ada di bilangan H-10. Masjid di mana masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Mesir melangsungkan sholat ‘Ied berjamaah.

Jadilah, terpaksa saya mengikuti suara mayoritas. Meninggalkan opor karena akan dapat gantinya nanti ketika sampai H-10, dan otomatis, menunda diri untuk mendekati makluk bernama kasur (maksudnya? Gak tidur)Read More »

mie isntant

al-Qur’an, Mie Instant dan Tingkat Empat Syaria’h

Hari ini, hari pertama masuk ujian. Wuih, terasa banget kalo tingkat empat. Masalahnya kawan-kawan yang antri di depan pintu masuk ujian gak serame dulu ketika tingkat satu. Tidak lagi ngantri berjejalan menuju lajnah masing-masing. Tidak juga ada rebutan kursi ujian seperti ketika masih anak baru.

Hari ini ujian al-Qur’an. Kami yang di Syari’ah, harus menguasai juz 7-8. Berbeda dengan kawan-kawan Ushuluddin, yang harus menjaga hafalan 1-8 nya. Rupanya beruntung muqoyyad di Syari’ah, meskipun tidak sengaja. Karena meskipun cuman 2 juz muqorror tiap tahunnya, tetep saja susah menjaga. Setidaknya 2 juz masih bisa dikejar. Apalagi, menghafal kini bukan lagi menjadi pekerjaan favorit hehe…Read More »